God Spot Conversation
Today I woke up in the early morning, was seeing the dark sky and felt breezing air. I closed my eyes, automatically knowing my stance of life, Yes, thanks God I am alive.
Pictures of my mind appeared in a flashback, suddenly.
I saw myself in a flash slide show of my past-life, showing that I’m growing day by day, learning second by second.
My brain was working like a super computer, resembled my sweetest and greatest moments of my life.
Is this a wonder of human being?
10 seconds in real life can recall all lifetime memory in a blink of an eye.
And with a pure warm heart saying, Alhamdulillah, you’ve made me born like this right now ya Rabb.
Feeling so grateful, proud, and forgiving my bad-self to take a step forward.
Great feeling when you look at yourself after you pray in Fajr.
Satisfying emotion when you drop your tear, dedicate your heart and life only for Allah SWT.
Curiosity, hoping to see and meet the great prophet Muhammad SAW, idol of ummat.
Freedom when you forgive everybody’s mistakes and evaluate yourself to be a better and more noble man.
Life is a drawing.
We begin in an empty white canvas, and end it with a picture.
We draw our own life, with our hands, with our feel.
We make a good scratch and mark, erase it when we do a mistake, make a composition of shape and color.
We try our best to make the best drawing ever, but in the end, the value of the picture will be decided by how meaningful your picture is, and the spirit of inspiration could be taken from it’s ‘message’.
We try our best to live in this world.
We’ve been dealing with various people and problems.
But don’t forget that the ultimate achievement of our life is not position, money, social status,or girlfriend.
But a permission from God to live with and meet Him in heaven.
Life is a competition of giving something good to the world.
God do exists, God is living.
In every part of our heart.
Because we are born with natural Asmaul Husna.
This, in here, we keep our God Spot.
Every time it tell you something, that’s the best advice for you to do.
Speaking with it, I’ve experienced this whole feeling just for 10 seconds.
So I try to write it to remember this feeling, a God Spot self-conversation.
Please, tell me everything, everytime you want, My God Spot.
My Lord, Allah SWT.
Nilai-Nilai Islam
Tidak terasa sudah 2 tahun berlalu sejak aku menunaikan ibadah Umroh di Tanah Suci Mekkah..
Tepat di saat libur semester, Juni 2009
Orang bilang di Tanah Suci kita akan mendapatkan sesuatu yg sesuai dengan perbuatan kita di dunia.. Di malam yang hening ini aku kembali mengingatnya :)
Sambil membuka2 buku petunjuk umroh, aku menanyakan pada ibuku pengalaman ia saat haji di pesawat bersama keluargaku. Saat itu aku lumayan deg2an karena merasa belum siap menghadap rumah Allah di Tanah Suci. Di awal perjalanan umroh, hari-hari berlalu dengan lancar, dari airport, ke hotel, jalan2 ke pusat perbelanjaan, tempat bersejarah, kemudian beberapa masjid lokal dan masjid nabawi di Madinah, semuanya aku hadapi dengan lancar dan hikmat.. Kemudian kami sekeluarga take off ke Mekkah.. dari sinilah semua bermulai..
Entah mengapa selama di Mekkah ibuku berubah menjadi orang yg temperamen dan aku selalu jadi korban emosinya, disindir2, dimarah2in, padahal cuma gara2 hal sepele kaya telat bangun, lupa naro barang, dsb.. dan yg aku bingung, kok ibu marah2 di saat umroh yg harusnya hikmat dan damai begini? lalu setelah pulang solat maghrib dari Masjidil Haram, tiba2 digicam satu2nya di kamarku hilang, padahal jelas2 sebelumnya aku simpan di kantong goodie bag biru.. Tahu bahwa digicam yg kubawa2 hilang, ibuku marah2 dan aku yg udah ga tahan lagi jadi berantem sama ibu.. Setelah satu kamar itu jd gaduh, akhirnya adzan isya berkumandang dan bapak mengajak kami semua untuk solat isya di Masjidil Haram..
Setelah tiba di Masjidil Haram, di shaf ikhwan bapak bilang ke aku, “yaudah gapapa kamera ilang, tapi kamu minta maaf ke ibu!”. Di saat solat aku masih sedikit kesal, tetapi kemudian beubah menjadi menyesal karna foto2 umroh jadi hilang gara2 aku dan suasana jg jd ga enak gara2 aku.. setelah shalat aku minta maaf ke ibu, “Bu, aku minta maaf tadi aku salah, aku juga minta maaf atas segala kesalahan2ku selama ini”.. di luar dugaan ibu malah justru mengusap kepalaku dan balik meminta maaf.. air mata kami mulai mengalir dan akhirnya kami saling memaafkan, kemudian kami kembali ke kamar.. eh, tiba2 digicam itu ketemu di kantong goodie bag biru yg padahal sebelum solat tadi jelas2 udah aku cek ga ada. Subhanallah.
Dari pengalaman itu aku mulai belajar bahwa seburuk apapun kelakuan orang tua kita, mereka adalah representasi Tuhan di dunia, seburuk apapun mereka, kita yg harus mengingatkannya, jangan berharap selalu mereka yg memberi teladan bagi kita.. meski dibentak, meski sakit hati, tapi kita harus sabar karena mereka lah yg telah membesarkan kita sejak kecil.. karena tidak ada orang tua yang tidak sayang kepada anaknya. (I)
Keesokan paginya, kami solat subuh di Masjidil Haram. Saat aku wudhu di masjid, tiba2 hidungku mimisan keluar darah deras banget, padahal saat itu sudah iqamah dan imam masjid sudah mau takbir.. aku yg bingung memanggil bapakku yg seorang dokter. Darah di hidungku dicoba dicuci berkali2 supaya beku, tapi tak ada perubahan sama sekali.. saat itu aku berkata ke bapak, “pak, aku solat di hotel aja deh. kalo berdarah gini solatnya bakal batal.” tetapi ayah menjawab “udah, solat disini aja, Allah juga ngerti!” awalnya aku bersikeras karna yg aku tahu kalo orang lg berdarah, solatnya ga bakal diterima, tapi berkaca dari pengalaman irasional selama di Mekkah, jadi aku paksa aja solat sambil menutup hidungku dgn sebelah tangan.. anehnya, setelah solat selesai tiba2 mimisanku berhenti total..
Dari pengalaman ini aku mulai belajar bahwa Islam itu mudah dan fleksibel. Seringkali aku berpikir makan babi itu haram, melihat aurat itu dosa, solat dan baca quran itu pahala, ke mesjid itu ibadah. Hal itu memang tidak salah, tapi kalau begitu mengapa ada kisah di hadits Nabi bahwa ada pelacur yg masuk surga karna memberi makan anak anjing? Mengapa ada kisah pembunuh 100 orang yg masuk surga padahal ia baru bertobat di akhir2, itu pun ia meninggal di tengah jalan menuju kebaikan, belum sempat membalasnya dengan ibadah yg sebanding dgn membunuh 100 orang.. Allah Maha Tahu segala isi hati.. Islam itu bukan ritual, bukan seberapa banyak kita solat, bukan jg sekedar seberapa khusyuk kita saat solat, tetapi juga seberapa dalam kita memaknai esensi2 solat dan menerapkan nilai2 solat itu di keseluruhan hidup kita dan tetap mempertahankan bahkan meningkatkan nilai2 Islam tsb di seluruh kehidupan kita.. bukan soal hasil, tapi proses pembelajaran dan niat kita untuk berbuat sesuatu lillahi ta’ala (II)
Alhamdulillah..Aku telah mendapatkan pengalaman yg sangat berharga di Arab Saudi 2 tahun yg lalu, tetapi sekarang aku berada di realita hidup di Indonesia. jika aku mencoba mengaitkan pengalamanku saat itu (hikmah (I) dan (II) yg aku dapatkan selama umroh), kemudian meratapi kondisi Indonesia saat ini, sungguh miris bung rasanya.. Dimana ada organisasi NII yg menjual brand Islam tetapi sama sekali tidak merepresentasikan nilai2 Islam. Dimana ada aja lah sebuah desa yg menghujat Ibu Siami yang menjunjung tinggi kejujuran, udah kayak cerita nabi di masa jahiliyah.. Dimana tokoh yg berkapabilitas membangun Indonesia seperti Bu Sri Mulyani dan Pak Habibie tidak dihargai di negara sendiri karena kepentingan politik.. dan masih banyak contoh lain.
Di dunia ini sudah sulit ditemui pemimpin dan muslim sejati seperti Muhammad SAW.. Bukan pemimpin yg memakai sorban, bukan pemimpin yg sering ke masjid dan memakai peci, tetapi pemimpin yg memegang nilai2 Islam dan mengimplementasikannya ke dalam kehidupan untuk memimpin umatnya menuju jalan yang diridhai Allah SWT, meskipun tidak berpeci, meskipun tidak berpenampilan islami„ yg tidak fanatis mementingkan kepentingan golongan (organisasi, partai, atau umat muslim saja), tetapi purely untuk ibadah memberi manfaat ke seluruh umat manusia tanpa terkecuali..
Teman2 semua, di note ini aku ingin berbagi pandangan supaya kita menginstropeksi diri dalam membangun segala perspektif kehidupan. Orang yg bersorban, berjilbab belum tentu mulia. Orang cantik, ganteng belum tentu sempurna. Kekayaan, kekuasaan, belum tentu membuat kita bahagia. Di zaman pluralisme ini, salah dan benar, baik dan buruk, itu semakin menjadi relatif. Tetapi kita tahu bahwa suara hati nurani adalah yg terbaik. Live our life best, as long as it’s based on lillahi ta’ala intention, habluminallah and habluminannas, insya Allah the door of heaven will be waiting for us. Semoga bermanfaat. amiin..
Hidup Itu…
Sering denger ga jaman kita bocah dulu, guru2 SD suka bilang ke kita, “Semoga kalo kamu udah besar jadi orang. amiin.”
Pas dulu masih bocah, gw mikirnya “kalo gitu sekarang aku bukan orang ya?” haha.
Dasar orang Indonesia suka ambigu gitu bahasanya. Tapi pernah terpikir ga kalo maksud dari kata2 itu adalah “smoga kalo kamu sudah besar nanti, bisa menjadi orang yang dibutuhkan, dan dibanggakan oleh bangsanya”?
Hidup itu adalah sebuah perjalanan..
Ada awal dan ada akhir.
Ada tujuan yang kamu tuju.
Ada tempat2 yang akan kamu singgahi.
Ada pengalaman yang kamu dapatkan selama perjalanan.
Ada teman seperjalanan yang bisa dijadikan teman seperjuangan.
Butuh peta untuk merencanakan roadmap kehidupan.
Ada keringat yang kamu kucurkan.
Ketika berada di medan yang sulit, kadang kamu harus mengorbankan barang yg kamu bawa.
Dan terakhir, ada cerita yang kamu abadikan setelah sampai di tujuan akhir.
Hidup itu bukan seberapa lama kamu melangkah, bukan seberapa jauh jalan yang kamu tempuh.
Tapi, hidup itu adalah seberapa berharga pengalaman yang bisa kamu ceritakan ke anak cucumu.
Dalam menceritakan kehidupanmu,
Apakah kamu akan membanggakan kekayaan?
Membanggakan jabatan?
Ataukah..
Cerita itu berisi kebanggaan bahwa kamu telah menjadi “pahlawan” yang memberi nafkah banyak fakir miskin, yang melawan orang2 jahat yg mengambil hak orang lain, yang menginspirasi orang lain, atau yang memberi manfaat bagi kehidupan umat manusia.
Life is not about money, position, or else.
Life is about value.
Semoga kita termasuk orang2 yang beruntung dan ketika nanti kita menghadapi penghujung usia, kita dapat menceritakan hidup kita dengan sorot mata bahagia di surga. amiin.
Mengenal Model United Nations
Apa itu MUN?
MUN adalah sebuah simulasi konferensi PBB yang bertujuan untuk mengedukasi pesertanya mengenai komunikasi efektif, globalisasi, isu internasional, dan diplomasi multilateral. Setiap peserta MUN akan berperan sebagai diplomat yang mewakili suatu negara tertentu, di dalam sebuah komite organisasi PBB, seperti WHO, WIPO, WTO, yang membahas topik masalah internasional tertentu, untuk menghasilkan sebuah resolusi PBB.
Apa tantangan MUN?
Ketika kita mewakili sebuah negara untuk membahas suatu isu global, setiap negara pasti memiliki keadaan, kebutuhan, kepedulian, dan kebijakan tertentu terhadap isu tersebut yang sangat beragam. Oleh karena itu, peserta harus berdebat dan bernegosiasi dengan delegasi lain supaya resolusi PBB yang menjadi output konferensi telah memberikan solusi yang mencapai win-win solution dan sejalan dengan kebutuhan negara yang kita wakili.
Apa manfaat mengikuti MUN?
Manfaat MUN bagi para peserta antara lain:
1. Belajar komunikasi efektif, public speaking, dan kemampuan diskusi dalam bahasa Inggris
2. Mengasah kepemimpinan, interpersonal skill dan kemampuan persuasi
3. Membuka kepekaan, wawasan, dan paradigma isu internasional
4. Merasakan esensi dan lingkungan diplomasi PBB
5. Menjalin silaturahmi dengan delegasi2 lain, yang mayoritas merupakan orang yang aktif dalam berorganisasi
Bagaimana konferensi MUN berlangsung?
Alur konferensi MUN, diilustrasikan oleh gambar berikut:
Flow of MUN
Opening Debate & Setting the Agenda
Setiap komite biasanya terdiri dari 2 topic area. Pada sesi ini, delegasi mengeset agenda topik mana yang akan didiskusikan di komite tersebut, dengan cara pemberian argumen pro dan kontra oleh beberapa delegasi, yang dimoderasi Chairs. Pengambilan keputusan akhir akan dilakukan dengan voting yang dipimpin oleh Chair.
Debate & Caucus
Setelah diputuskan topik apa yang akan dibahas di komite, Chairs akan membuka general speakers’ list untuk general debate. Pada sesi ini delegasi akan memberikan speech satu per satu mengenai sudut pandang general terhadap isu itu, biasanya yang akan disampaikan adalah concern terhadap isu tsb, kebijakan negara terkait isu, dan stance dari negara tersebut.
Setelah general speakers’ list dirasa cukup, Chairs akan membuka usulan fokus topik yang akan dibahas dalam forum, yang disebut dengan istilah “motion”. Kemudian delegasi dapat mengangkat placard untuk mengusulkan motion. Ada 2 tipe motion, yaitu:
- moderated caucus
Contohnya: moderated caucus to discuss about “the core problem why racism happened”, in “10 minutes” and “1 minute speaking time”.
Maka pada “10 menit ke depan”, forum akan membahas mengenai “inti masalah mengapa terjadi masalah rasisme” kemudian tiap2 delegasi yang dipilih oleh Chairs akan diberi kesempatan untuk memberikan speech selama “max 1 menit”, logikanya dalam 10 menit tersebut akan ada 10 delegasi yang akan memberikan speech terkait topik bahasan tsb.
2. unmoderated caucus
Pada sesi ini delegasi diberi kebebasan untuk mendiskusikan topik tanpa dimoderasi Chairs. Tujuan dari unmoderated caucus adalah untuk memberi kesempatan delegasi untuk mencari aliansi dan mendiskusikan topik secara informal dengan lingkungan yang mirip seperti Focus Group Discussion. Output yang diharapkan dari unmoderated caucus adalah terbentuknya sebuah aliansi yang memiliki idealisme yang sama, kemudian diharapkan setiap blok aliansi dapat menuliskan usulan2 solusinya ke dalam sebuah kertas, yang disebut “working paper”.
Contohnya: unmoderated caucus in “10 minutes”.
Maka pada “10 menit ke depan”, forum tidak akan dikendalikan oleh moderator.
Working Paper
Working paper merupakan sebuah hasil kerja dari diskusi yang telah dibahas oleh sebagian delegasi selama konferensi berlangsung yang berupa usulan poin-poin solusi yang harus diangkat dalam menyelesaikan masalah internasional yang sedang dibahas. Working paper dituangkan secara tertulis dan tidak memiliki format yang baku.
Biasanya satu blok aliansi akan menghasilkan 1 working paper, kemudian seiring berjalannya diskusi, aliansi dapat membuat working paper baru yang lebih terupdate yang akan mereplace fungsi working paper yang lama. Seiring berjalannya konferensi, beberapa blok aliansi akan ada yang bersatu (merged) dan akan menghasilkan working paper baru yang lebih terintegrasi solusinya.
Untuk dapat mendiskusikan isi working paper, dibutuhkan sesi diskusi dalam unmoderated caucus.
Draft Resolutions
Setelah dirasa sudah ada working paper yang telah terintegrasi cukup lengkap, maka Chairs akan merequest ke para delegasi untuk membuat draft resolution. Berbeda dengan working paper, draft resolution memiliki format baku dan memiliki prasyarat quota pendukung (signatories) untuk dapat disahkan menjadi draft resolution.
Draft resolution ini akan divoting nantinya, draft resolution yang menang voting dengan simple majority (quota tertentu) akan disahkan menjadi final resolution yang merupakan output akhir dari konferensi MUN.
Namun untuk dapat berhasil menjadi draft resolution, dibutuhkan quota vote tertentu, oleh karena itu dibutuhkan diskusi kembali. Draft resolution dapat diperbaiki berdasarkan pertimbangan usulan delegasi lain, perbaikan isi draft resolution disebut dengan amandemen. Banyak sekali aturan teknis yang harus diperhatikan pada pembuatan draft resolution yang tidak bisa dibahas satu per satu disini.
Vote on Draft Resolutions
Voting terhadap beberapa draft resolution untuk dicari draft resolution mana yang layak dijadikan final resolution.
Komite yang biasanya tersedia di sebuah MUN besar seperti WorldMUN
General Assembly
- DISEC (Disarmament and International Security Committee)
- SOCHUM (Social, Cultural, and Humanitarian Committee)
- SPECPOL (Special, Political, and Decolonization Committee)
- WTO (World Trade Organization)
- WHO (World Health Organization)
- WIPO (World Intellectual Property Organization)
- HGA (Historical General Assembly)
- UNDP (United Nations Development Program)
- UNHRC (United Nations Human Rights Council)
- UNAIDS (United Nations Joint Program on AIDS)
- World Conference of Wome
- Summit of the Future War
- G 20
- ASEAN Regional Forum
- OIC (Organization of the Islamic Conference)
- Security Council
- Historical Security Council
- ICC (International Criminal Court)
- etc.
Goal of Our Life
Today’s note start with a question, what is the goal of your life?
to be a doctor? engineer? lawyer? diplomat?
is it to be a president? to be a CEO? to be a company owner?
A little story from me, long ago I studied hard to be accepted in ITB, and I accomplished that. Then I wanted to lead and take strategic position in organization, Alhamdulillah I accomplished that. I wanted to go overseas with a mission of educational project, I accomplished it too. I wanted to be a founder of an organization, it is almost accomplished. etc etc. Life goes on and on, then who knows someday I will reach my dream to be an owner of a multi-national company, amiin.
But then, the question come after that.
What if someday I successfully accomplish my dream?
Think about it, after you accomplish your highest dream, what’s next?
Is it over?
If we take it simply, we live only to reach the happiness right? we want to be rich and smart because we want to be recognized by anyone, we want to give something to this world and leave a trail, and to make our family happy ever after.
Having a high dream is good, collecting high achievements is great, but we should balance it with the value of our life. Yes, it’s value. Being a president is an achievement, but being a leader who give better welfare and life for his people is the value. What happen if you live without value? Maybe you could be a president but you achieve by conducting dirty politic in the election, or maybe you could be the richest man in the world but you achieve it by stealing or corrupting the others’ money. Is kind of that worthy?! Is that good for you?!
Value isn’t like inspiration which come from a random situation, we construct it. Since we were a kid, we’ve received many value from parents, teachers, friends and environments. Consciously or not, we are learning by living, from day to day. Whatever the inputs are, we process them and create the comprehensive one as the principle of our life. The question come afterwards, what is the main value of your life? hold it!
I believe every of us born to be a khalifah (leader), to give all to the good to the world, to become a noble man in the eyes of the God. Remember who we are and what is the purpose of our life is the basic thing to feel the happiness of life, don’t be blinded by achievement and achievement only. Let us grow up with great values in our life :)
“Life is a competition of giving something good to this world. So aim the highest, because you’ll give something bigger than anyone else”
CEO vs Leader
Today’s note will tell us about something that’s started with a question, What’s the difference between a CEO (or chairman, or president, or head of org) and a leader in an organization?
By definition, CEO is the highest-ranking executive or administrator in charge of total management of an organization, while Leader is a person who influences a group of people towards the achievement of a goal. Commonly, we have more respect when we hear the word ‘CEO’ than ‘leader’, because CEO is a good leader, but not every good leader can be a CEO. But, if we think further, is CEO always the best leader in the organization?
When we talk about CEO, it means we appraise people focused on his rank or position in the organization. But when we talk about leader, it means we appraise someone because of his charisma and influence in the organization. CEO is someone who is trusted to take the top position. But which is better, the top CEO, or the best leader?
Sometimes, we appraise people just by his/her position, but we often forget that the most important thing is not the position, but the leadership itself. In an organization, we could see someone who is nobody, but the organization is driven by his action. Or maybe in other case, an ordinary staff give greater impact than his boss. Rhenald Kasali discusses this in his new best seller book, “Cracking Zone”, tell us that there are certain people who can cracks the system by his action even if he has no position, just like a cracker/hacker sabotages a computer security and change the whole thing in the system.
Don’t be blinded by rank or position, we should focus more on the contribution. Don’t be arrogant even if you’re the head of the team. And it’s better if we give outstanding leaders reward as the top manager of the organization, because they deserve it.
You don’t have to hold a position in order to be a leader. ~Anthony J. D’Angelo
Leadership is action, not position. ~Donald H. McGannon
Hati nurani vs obsesi kontribusi. ~anonymous
Life is a competition of giving something good to this world. So aim the highest, because you’ll give something bigger than anyone else. Fastabiqul Khairat, hidup itu berlomba2 dalam kebaikan. ~Imam Prabowo
Negara Maju VS Negara Berkembang! Who stands out?
Sejak pulang dari WorldMUN 2011Singapore, pola pikir gw tentang Indonesia banyak berubah. Model United Nation secara ga langsung mengajarkan gw untuk menjiwai pola pikir negara lain, baik developing countries maupun developed countries. Karena itu, gw jadi mempelajari beberapa hal yang sesungguhnya membuat kesel meratapinya. Oke langsung aja cerita:
1. Negara maju akan “selalu” lebih maju dari negara berkembang
Kok gitu? Karena mereka punya kapasitas (dana), intelektual, power to determine, dan teknologi lebih tinggi dari negara berkembang. Ibarat kata orang kaya lebih gampang kaya dibandingkan orang miskin jadi kaya, karena orang kaya punya modal, mampu sekolah mahal, ga ada beban nyari duit bahkan justru punya duit buat nyuruh2 orang, dan punya gadget + fasilitas hidup yg lebih canggih. Kalo ada istilah “lingkaran kemiskinan” di masyarakat, maka ga salah kalo ada istilah “lingkaran ketertinggalan” di negara berkembang. Istilah “selalu” yang gw pakai di atas menunjukkan kalo sebenernya masih ada secercah harapan untuk bisa keluar dari lingkaran tersebut. Kalo orang miskin punya daya juang yang tinggi, taktis, dan punya visi maka ia bisa menjadi orang besar yang bahkan melampaui orang-orang kaya (sering lihat ya realita seperti ini di talk show semacam Kick Andy dan buku-buku motivasi). Tapi itu kan level individu, kalo scope-nya level negara? berarti harus ada kebersamaan dalam memupuk daya juang tersebut tidak hanya di diri kita masing2, tapi juga komunitas, daerah, provinsi, hingga satu populasi RI. Untuk itu jangan lupakan peran kita sebagai “agent of change” yang akan menggerakkan 1 Indonesia ini dalam menembus lingkaran ketertinggalan kita dari bangsa lain. Gw bukan bicara soal ITB aja, terlalu sombong kalo yakin ITB doang bisa mengubah bangsa ini, gw bicara soal seluruh mahasiswa di RI ini. Ayo kita tingkatkan kolaborasi.
2. Negara maju & negara berkembang bagaikan Producer dan Consumer, Produktif dan Konsumtif
Di WorldMUN, gw membahas isu paten di World Intellectual Property Organization (WIPO). Waktu itu gw ngebahas tentang “gene patenting” (pematenan gen), dimana ada kontroversi moral dan etik, isu sosial, serta isu monopoli tentang pematenan gen yang melibatkan teknologi genetic engineering. Gw menemukan fakta bahwa dalam kasus ini, negara maju most likely akan menghasilkan paten yg jauh lebih banyak dibandingkan negara berkembang (karena faktor modal, teknologi, intelektual, dan power itu tadi) apalagi terkait teknologi advance seperti genetic engineering, sehingga negara berkembang harus bayar royalty fee untuk menggunakan penemuan baru yg negara maju hasilkan.
Tidak hanya itu, setelah berhasil menemukan produk inovatif, negara maju mengekspor produknya dalam jumlah besar ke negara berkembang, terutama negara yg punya sifat konsumtif tinggi seperti Indonesia. Ya, Indonesia adalah target market yang menggiurkan para pengusaha dan investor asing karena Indonesia memiliki jumlah populasi yang tinggi dan penduduknya cenderung konsumtif.
Kemudian, negara maju menerapkan beberapa strategi untuk bisa menguasai pasar di negara berkembang. Yang saya tahu di bidang agrikultur, salah satu strategi negara maju adalah dengan menyerang produk lokal dengan harga rendah, yaitu di ambang floor price dalam buffer stock policy, yang mengakibatkan turunnya harga pasar produk lokal karena pengaruh persaingan dagang dengan produk impor. Ketika harga produk lokal semakin turun, maka kesejahteraan petani lokal juga akan menurun sehingga menimbulkan kemiskinan dan pengangguran, sehingga industri pertanian lokal semakin mati. Di saat pertumbuhan industri lokal terganggu dan petani banyak yang menganggur, investor negara maju meningkatkan jumlah ekspornya dan menawarkan kesejahteraan ke petani dgn syarat menanam bibit mereka di lahan pertanian lokal. Sehingga hasil akhirnya adalah petani lokal bekerja di lahannya sendiri tetapi menanam bibit produk asing. Denger2 strategi semacam ini sering dipakai sama perusahaan Cina, yang mematok harga murah pada produknya sehingga laku terjual di Indonesia. Jadi intinya, negara maju yg memiliki banyak multi-national corp akan selalu merajai pasar di seluruh dunia dengan mengalahkan industri dalam negeri negara berkembang.
3. Orang pintar dari negara berkembang dimanfaatkan oleh negara maju
Ini adalah pelajaran yang paling menyakitkan karena hal ini terasa dekat dengan kehidupan gw karena gw hidup di universitas yg berisi pemuda-pemuda intelektual Indonesia, ITB. Terkait isu paten WIPO lagi, setelah berkonsultasi dengan expert, riset lewat buku dan internet, gw belajar bahwa negara maju jago banget mengeksploitasi intelektualitas para expert di negara berkembang. Intinya para orang2 pintar di negara berkembang digiurkan dengan tawaran benefit sharing (contoh: donasi, scholarship dan edukasi gratis dari negara maju), opportunity (job dengan gaji dan reputasi tinggi), dan apresiasi (award lomba ide, jurnal internasional, dsb) di level internasional. Padahal di saat yang bersamaan kenyataannya kontribusi yang diberikan orang2 pintar tersebut diberikan untuk kemajuan multi-national corporation yg semakin memajukan negara maju. Negara maju juga meng-encourage para ilmuwan dan inovator lokal dengan lomba ide dan penelitian untuk diapresiasi di jurnal internasional mengenai kondisi negara asalnya (misalnya psikologi manusia, tradisi budaya, dan biodiversitynya), sehingga ide dan inovasi tersebut dapat diadopsi oleh negara maju untuk kemudian diteliti lebih lanjut dan diimplementasikan menjadi sebuah karya nyata, yang lebih baik, yang kemudian bisa saja dipatenkan oleh negara maju tersebut. Sungguh luar biasa kekuatan negara maju, membuat para orang pintar di negara berkembang merasa hebat di level internasional, padahal di saat yang bersamaan mereka juga diperbudak dan idenya dieksploitasi Multi-National Corporation negara maju.
—————————————————————————————————————————————————————————————————————
Gimana nih, tau fakta yang terjadi seperti ini lo sedih ga sih ngeliatnya? Kalo gw jujur aja sedih, apalagi kalo ngeliat realita kalo pemerintah kita kurang tegas, media massa kurang edukatif, kaum intelektual masih individualis, dan rasa nasionalisme masyarakat menipis.
Jadi gimana nih temen2 yang merasa tersindir karena kenyataannya kita dianggap bodoh sama sebagian orang barat hanya karena kita orang Indonesia, tersindir kalo ternyata lo termasuk orang yg konsumtif sama produk asing, atau karena lo termasuk orang yang berlomba-lomba memperindah CV untuk menjadi “kuli” perusahaan asing? Wajar kalo lo kesel, berarti kita sama, masih punya nurani untuk peduli sama keadaan bangsa ini. Tapi inilah kenyataan dan ada baiknya kita renungi dan hadapi kenyataan dengan kesabaran dan tekad untuk mengubah nasib.
Kalo dari gw pribadi melihat, ada 2 hal yang bisa kita lakukan dalam jangka panjang.
1. Perbaiki government Indonesia
Sudah terlalu banyak pemimpin di jajaran pemerintahan yang hanya janji tanpa aksi. Sudah terlalu banyak elemen negara yang korupsi. Kalo kita punya niat untuk mengubah itu, jadilah orang yang punya visi mengubah Indonesia dengan partisipasi aktif di pemerintahan. Jadilah leader yang mulia dan cerdas.
2. Memajukan industri lokal supaya Indonesia mandiri dan mampu bersaing secara global
Dengan kata lain, tingkatkan kuantitas dan kualitas entrepreneurs di Indonesia. Buat eksekutif dan karyawan perusahaan lokal juga harus tingkatkan kualitasnya supaya kalo ada perusahaan asing masuk bisa kita tackle dengan produk lokal yang berkualitas.
Semoga tulisan ini bisa jadi renungan bagi kita semua dan memberi manfaat. Gw hanya sharing mimpi, untuk selanjutnya kita sama2 belajar. Henry Ford said “Coming together is a beginning; keeping together is progress; working together is success”. Semoga kita terinspirasi untuk menjadi bibit2 agent of change, yang tidak hanya memiliki idealisme, tetapi juga merawat idealisme tersebut hingga menjadi kenyataan, hingga nanti kita bersatu dan meraih kesuksesan bersama.
Butterfly
I am searching
Something I wanna hold
Somebody I want to be
Someone who complete me
I am waiting
for my dreams come true
for all fruits I cultivate
for my future mate
And I’m alone in my room
Freely thinking
Talk to myself
Someday I’ll find the way
Soon I’ll make it true
Now isn’t the time
Because He still teaches me how to endure,
He teaches me how to struggle,
For someday He’ll make me a strong man who stands out and wins
Like a worm metamorphosis to cocoon, then someday it’ll fly beautifully after changed into butterfly
Only to Him I rely on, only to Him I pray for everything
